TAFSIR, STILISTIKA, BALAGHAH, DAN FIQIH

Diposting oleh alifbraja pada 01:38, 08-Peb-13

Di: ISLAM

TAFSIR AL-JAMI

UNTUK

MENYELAMI DALAMNYA LAUTAN STILISTIKA AL-QUR’AN




AL-FATIHAH
Makkiyyah; 7 Ayat


v  Tafsir Al fatihah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ ﴿١﴾
(1)     Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah,  Maha Penyayang

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٢﴾
(2)     Segala puji  bagi Allah, Tuhan semesta alam,

الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ ﴿٣﴾
(3)     Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang,

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴿٤﴾
(4)     Yang menguasai  hari pembalasan

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾
(5)     Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan

اهْدِ نَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿٦﴾
(6)     Tunjukkanlah kami (kepada) jalan yang lurus,

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ﴿٧﴾
(7)     (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni'mat kepada mereka;  bukan (jalan) mereka yang dimurkai,  dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.



v  Rahasia Lughah

A.      Analisa Lafazd

1.       Lafadz [ بِسْمِ ] di Dalam [ بِسْمِ اللَّهِ ]
Lafadz [ بِسْمِ ] di dalam [ بِسْمِ اللَّهِ ] terdiri dari dua suku kata, yaitu: [ ب ] (al ĥarf al jārr), dan [ اسم ] (kalimat isim, artinya nama, kedudukannya al majrur).

Lafadz [ ب ] (al Harf al Jār)  di dalam [ بِسْمِ اللَّهِ ], maknanya bisa enam pilihan, dan dari enam pilihan tersebut hanya dua makna yang banyak direkomendasikan para ulama, yaitu:

a)       Al Isti’ānah (artinya, meminta pertolongan dan bantuan). 
Kemudian, apabila [ ب ] (al Harf al Jār) menggunakan makna ini, maka lafazd [ اسم ] memiliki dua pilihan kemungkinan. pertama, lafazd [ اسم ] dimaknai [ الْمُسَمَّى ] (artinya yang dinamai). Jadi, lafazd [  بِسْمِ اللَّهِ ]  bisa diartikan: “Dengan meminta pertolongan kepada yang dinamai Allah” (saya membaca al Qur’an, saya makan , saya minum, saya bekerja, dan sebagainya, tergantung aktivitas yang dilakukan, dimana disana Basmalah dibacakan). Seperti pada al Fatihah ini, aktivitasnya adalah membaca al Qur’an, maka makna Basmalah dihubungkan dengan aktivitas tersebut.

Kemungkinan kedua, lafazd [ اسم ] kedudukannya sebagai ziyadah (penambah), yang fungsinya untuk membedakan antara [  ب  ] Qasam (Haraf untuk menunjukan sumpah. Seperti, [ بِاللَّهِ ] artinya Demi Allah)  dan [ ب ] haraf Jarr, yaitu yang dimaksud pada lafazd Basmalah ini. Dengan demikian maka, lafazd [ بِسْمِ اللَّهِ ] bisa diartikan: “ Dengan meminta pertolongan kepada Allah” (saya membaca al-Qur’an, saya makan , saya minum, dan sebagainya). Dengan menghilangkan makna lafazd [ اسم ] dengan alasan ziyadah (penambah) tadi, namun tetap ada fungsinya, yakni sebagai pembeda, seperti telah dijelaskan di atas.

b)       Al Mushāhabah (artinya, Dengan disertai)  
Apabila [ ب ] (al Harf al Jār) menggunakan makna ini, lafazd [ اسم ] memiliki dua pilihan makna. Pertama, diartikan dengan makna hakikinya yaitu “nama”. Maka, lafazd Basmalah diterjemahkan: “Dengan disertai nama Allah” atau “Dengan nama Allah”, Saya membaca, shalat, bekerja, dan sebagainya.  Kedua, lafazd [ اسم ] dimaknai [  التَّسْمِيَة ] (artinya, menyebut). Maka, lafazd Basmalah bisa diartikan: “Dengan disertai menyebut Allah” atau “Dengan menyebut Allah” (Saya membaca, bekerja, dan seterusnya). Adapun tujuan Basmalah dengan menggunakan [ ب ] al Mushāhabah adalah untuk Tabarruk, yaitu mengharap barakah atau berkat dari mengingat dan menyebut nama Allah Swt.

2.       Lafazd [ اللَّهِ  ]

Lafazd [ اللَّهِ ] menurut sebagian Ulama, adalah  Lafazd Musytaq (Dalam kaidah ‘Ilm as Sharf atau Morfologi, Lafzd Musytaq yaitu Lafazd yang diambil, atau lafazd turunan dari kata lain yang merupakan asal katanya). Dan ada banyak pendapat mengenai kata yang menjadi asalnya. Diantaranya, ada kelompok Ulama yang berpendapat bahwa lapazd [  اللَّه] ini berasal dari kata [الإِلاهَة -  الأُلُوهِيَة -  الأُلُوهَة] yang artinya, menyembah dan menghamba. Ada juga kelompok Ulama yang berpendapat bahwa lapazd [  اللَّه] aslinya [ إِلـٰه ].  Ilah dalam Etimologi berarti Tuhan, God, Lord. Yaitu  segala sesuatu yang disembah dan dipuja, apapun itu. Baik yang memang berhak dan layak untuk disembah, atau sama sekali tidak berhak dan layak. Kemudian dimasukan ke dalam lafazd [ إِلـٰه ], [ ال ] yang dalam kaidah Ilm an Nahw (Sintaksis) berfungsi untuk mema’rifatkan. Yaitu, untuk menjadikan diketahui dan dikenal secara lebih spesifik. Ma’rifat tidak harus selalu bermakna khusus. Karena, Khusus dan umum itu, beda lagi kaidah yang digunakannya. Bisa jadi lafazd yang memakai Alif-Lam, maknanya umum, seperti pada lafadz [ الْإِنْسَان ] (artinya manusia) yang terdapat pada surat al ‘Ashr (QS; 103:2), disini maknanya umum, yaitu semua manusia, baik tua, muda, perempuan, laki-laki, kaya, miskin, pintar maupun bodoh. (lebih jelasnya bisa dilihat pada bahasan lafazd al Hamd, No. 4). Maka,  lafazd [ إِلـٰه ] setelah dimasuki [  ال], dan dibuang Hamzahnya berubah menjadi [ اللَّهِ ]. Sekarang, kedudukannya menjadi Ma’rifat (diketahui), bahwa Allah Swt Adalah Ilāh (Tuhan), dan Ilāh (Tuhan) Ialah Allah.

Sementara, mayoritas Ulama (diantaranya, guru besar Ilm an Nahw yakni, Imam Sibawaih) berpendapat, Lafazd [ اللَّهِ ] adalah  Alam  Murtajal, yaitu nama yang sejak lafazdnya dilahirkan (dilaunching) pertama kali, langsung digunakan untuk “nama”, tidak pernah dipergunakan untuk yang lain, dan dengan lafazd yang utuh tanpa penambahan atau pengurangan, termasuk [ ال ], itu juga asli bukan hasil penambahan. Dan bisa juga Alam Murtajal ini disebut dengan istilah Alam Ghair Musytaq (bukan pecahan dari kata yang lain). Didasarkan pada pendapat mayoritas Ulama berarti lafazd Allah ini merupakan lafazd khusus untuk nama dzat yang maha suci, yaitu Allah Swt. Pendapat ini adalah yang paling direkomendasikan untuk dijadikan pegangan, mengingat dalil-dalil kaidah Ilm as Sharf (Morfologi), dan Ilm an Nahw (Sintaksis) yang dimilikinya paling kuat dan meyakinkan.

Adapun Lafazd [ اللَّهِ ] menurut Terminologi (Istilah) Ilm at Tauhid (Ilmu Tauhid) adalah nama untuk Dzat yang agung, dan mulia, yang  wajib untuk disembah, yang memiliki sifat-sifat sempurna. Dia mahasuci dari sifat kurang dan aib, dan tidak ada satupun yang layak dan pantas menjadi sekutu-Nya. Dialah Allah Swt, sumber dari segala sumber, asal dari semua asal, al Wajib al Wujud (yang wajib wujud-Nya), Tuhan semesta alam.

3.       Lafazd [ الرَّحْمَـٰنِ ] Dan [ الرَّحِيمِ ]

a)       Lafazd [ الرَّحْمَـٰنِ ] diambil dari asal kata [ الرَّحْمَة ] yang merupakan bentuk Mashdar (kata dasar), sementara wazan fi’il madhi dan mudharinya adalah [  رَحِمَ يَرْحَمُ رُحْماً ورُحُماً ورَحْمةً ورَحَمَةً ومَرْحَمَةً] (merupakan kata kerja transitif / fi’il muta’adi), artinya mengasihi, menyayangi. Sementara, lafazd [ الرَّحْمَـٰنِ ] itu sendiri adalah bentuk sifat (isim fail, bentuk untuk menunjukan pelaku) dari [ الرَّحْمَة ], dengan menggunakan wazan [ فَعْلان ], memakai tambahan Alif dan Nun di akhir.  Dengan demikian, maka lafazd [ الرَّحْمَـٰنِ ] artinya “yang mengasihi, yang menyayangi”,  (kata “yang” disini merepresentasikan “isim fail”).

b)       Lafazd [ الرَّحِيمِ ] di ambil dari asal kata yang sama dengan [ الرّحْمَـٰن ] yakni dari [ الرّحْمَة  ] dengan menggunakan wazan [ فَعِيْل  ], yaitu ditambahkan satu huruf, [ ي  ] ditengah. Dari penjelasan di atas dengan kasat mata kita bisa membedakan di antara keduanya dari sisi Shighah (bentuk kalimat atau  kata dalam istilah bahasa Indonesia). Sementara dari sisi makna,


4.       Lafazd الْحَمْدُ ]
5.       Lafazd [  رَبِّ ]
Lafazd [ رَبِّ  ] didalam kaidah Ilm as Sharf (Morfologi),  merupakan  bentuk  Mashdar  (Kata Dasar) dari [ رَبَّ _  يرُبُّ _ رَبًّا ] (Rabba _ Yarubbu _ Rabban). Mashdar merupakan asal dari semua kata turunannya. Itu, menurut Ulama Basrah. Sementara menurut Ulama Kufah, Kata Dasar yamg menjadi akar kata adalah Fi’il Madi. Lafazd [ رب ] (Rabb), Makna etimologisnya berarti mengurus,  mengatur, memiliki, dan mengelola dengan sebaik-baiknya. Lafazd [ رَبّ ] (Rabb), ada juga yang berpendapat bahwa lafazd ini diambil (Musytaq) dari [ التّرْبِيَة  ] (at Tarbiyyah), yang artinya mendidik, mengasuh, dan menjaga. Lafazd [ ربّ ] (Rabb), sebagaimana telah dijelaskan diatas, adalah Mashdar (kata dasar). Akan tetapi pada Ayat: 2, Surat al Fatihah ini, Lafazd [ ربّ ] walaupun  berkedudukan sebagai Mashdar, tetapi maknanya adalah Isim Fail (….). Dan dalam term inilah kata [ ربّ ] sering digunakan, yakni sebagai Isim Fail, yang maknanya adalah yang mengurus, yang mengatur,  dan yang mengelola semesta alam dengan sebaik-baiknya (kata “Yang” disini, merepresentasikan Isim fail).

Untuk memudahkan ingatan  mengenai makna kata [ ربّ ], berikut ini adalah sinonimnya:
 [ الْمَعْبُوْد ]  (Yang disembah), [ المالِك ]  (Yang memiliki, Yang menguasai), [ المُصْلِح ](Yang mengelola dengan baik), [ السيِّدُ ]  (Tuan),  [ المدبّر ] (Yang mengatur), [  الْمُنْعِم ](Yang memberi nikmat), [ القيِّم ] (Yang menanggung jawab), [ الْمُربّي ] (Yang mendidik, Yang mengasuh).


6.       Lafazd    الْعَالَمِينَ
7.       Lafazd   مَالِكِ

·          مَالِكِ  Lafazd ini adalah merupakan sinonim dari Lafazd رب (Rabb), seperti telah dijelaskan di atas. Akan tetapi, ada beberapa perbedaan diantara keduanya……………………..

8.       Lafazd   يَوْمِ الدِّينِ
Religion, faith, belief
9.       Lafazd نَعْبُدُ  dan   نَسْتَعِينُ    
10.    Lafazd    الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ



B.       Stilistika al Fatihah

1.       Pemilihan kalimat (kata, dalam bahasa Indonesia)
2.       Penyusunan kalimat
3.       Pemilihan fatihah sebagai surat yang diulang  ulang tiap shalat
قال الفارسي إِنما قيل بسم الله الرَّحْمن الرحيم فجيء بالرحيم بعد استغراق الرَّحْمنِ معنى الرحْمَة لتخصيص المؤمنين به في قوله تعالى وكان بالمؤمنين رَحِيماً كما قال اقْرَأْ باسم ربك الذي خَلَقَ ثم قال خَلَقَ الإِنسان من عَلَقٍ فخصَّ بعد أَن عَمَّ لما في الإِنسان من وجوه الصِّناعة ووجوه الحكمةِ ونحوُه كثير

v  Rahasia ulum Al Quran

v  Rahasia Munasabah Ayat (korelasi antar Ayat) dan Rahasia Hadits
v   
·         Nama-Nama Al Fatihah

1.       Al Fatihah                  dalilna naon
2.       Umm Al Quran         dalilna naon
3.       Umm Al Kitab           dalilna naon


·          Fadilah Al-Fatiha

1.       Hadits Abdullah Ibnu Abbas Ra.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ بَيْنَمَا جِبْرِيلُ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ هَذَا بَابٌ مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلاَّ الْيَوْمَ فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَقَالَ هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلاَّ الْيَوْمَ فَسَلَّمَ وَقَالَ أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِىٌّ قَبْلَكَ فَاتِحَةُ الْكِتَابِ وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلاَّ أُعْطِيتَهُ.  رواه مسلم
Artinya:

Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Abbas, Dia berkata: “Ketika jibril sedang duduk disamping Nabi Saw. Dia mendengar suara dari atas, kemudian Dia mengangkat kepalanya lalu berkata: “Telah dibuka pada hari ini pintu langit (langit dunia), dimana sebelumnya tidak pernah sekalipun di buka, kecuali hari ini. kemudian turun Malaikat dari langit, Lalu Jibril berkata: “Telah turun Malaikat ini kebumi, padahal sebelumnya tidak pernah, kecuali pada hari ini. Kemudian Dia (Malaikat yang turun dari langit) mengucapkan Salam, dan berkata: “(Muhammad) bersukacitalah engkau dengan dua cahaya (ini) yang didatangkan kepadamu, yang tidak pernah didatangkan kepada seorangpun Nabi sebelum Kamu. (Dua cahaya itu) adalah Fatihah Al Kitab (surat Al Fatihah) dan Ayat-Ayat terakhir dari surat Al Baqarah (Ayat 285-286). Tidak dibaca satu huruf saja dari keduanya, kecuali diberikan kepadamu (pahalanya dan ijabah dari Doa yang terkandung didalamnya). HR. Muslim.

v  Hadits Qudsiy

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم  قَالَ : مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهْىَ خِدَاجٌ - ثَلاَثًا - غَيْرُ تَمَامٍ . فَقِيلَ لأَبِى هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الإِمَامِ. فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِى نَفْسِكَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ « قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْد         ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِ

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

Belum ada komentar. Tulislah komentar pertama!

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar